Indonesia, negara besar dengan geografis kepulauan yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Dengan aneka ragam budaya dan adat istiadat yang berkembang di masyarakat. Masih dapat dirasakan masalah kesejahteraan, pendidikan, dan fokusnya adalah pelayanan kesehatan belum tersentuh secara hakiki. Berbicara tentang pelayanan kesehatan tidak bisa dilepaskan dengan SDM Kesehatan. Depkes telah membentuk satu unit utama yang menangani masalah SDM ini, yaitu Badan PPSDM Kesehatan. Tulisan ini mencoba mengingatkan kembali kepada kita semua sebagai insan tenaga kesehatan terutama saudaraku para bidan di daerah terpencil untuk lebih menata segalanya mewujudkan harapan menjadi nyata.
Bidan sebagai anggota profesi
Sebagai anggota profesi, bidan mempunyai ciri khas yang khusus. Sebagai pelayan profesional yang notabene merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan. Bidan mempunyai tugas yang sangat unik, yaitu:
1). Selalu mengedepankan fungsi ibu sebagai pendidik bagi anak-anaknya.
2). Memiliki kode etik dengan serangkaian pengetahuan ilmiah yang didapat melalui proses pendidikan dan jenjang tertentu.
3). Keberadaan bidan diakui memiliki organisasi profesi yang bertugas meningkatkan mutu pelayanan kepada masyarakat, 4). Anggotanya menerima jasa atas pelayanan yang dilakukan dengan tetap memegang teguh kode etik profesi.
Hal tersebut akan terus diupayakan oleh para bidan sehubungan dengan anggota profesi yang harus memberikan pelayanan profesional. Tentunya harus diimbangi dengan kesempatan memperoleh pendidikan lanjutan, pelatihan, dan selalu berpartisipasi aktif dalam pelayanan kesehatan.
Memerankan Bidan Siaga di daerah terpencil dari sudut nurani.
Pada saat penulis sedang dalam sebuah perjalanan di daerah terpencil, ada seorang ibu-ibu yang habis memeriksakan kehamilannya berjalan sendirian. Dia menempuh jarak yang sangat jauh dari tempat tinggalnya. Peluh membasahi dahinya, nampak bajunya basah dengan keringat sehabis perjalanan. Haus dan lelah kelihatan dari wajahnya, penulis menyodorkan sebotol air dalam kemasan, tanpa basa-basi sang ibu menenggak habis. Kembali wajah sang ibu menjadi ceria. Saat penulis mengantar pulang dengan mobil sewaan, betapa senangnya sang ibu. Dari mulutnya keluar sepatah kata yang menyentuh nurani keharuan, “Bu bidan tadi orangnya baik sekali, saya tidak membayar tidak jadi soal, yang penting saya dan kehamilan saya sehat. Malah saya mendapat vitamin gratis”.
Suatu fenomena yang langka di jaman seperti ini. Bisa kita rasakan, peranan bidan di daerah terpencil nampak nyata sekali. “Rasa” sebagai bagian dari anggota masyarakat, begitu kentalnya melekat dalam jiwa bidan. Dari pengamatan, seorang bidan desa di daerah terpencil dituntut berperan lebih. Kalau kita sedikit menegok kasus yang terekspos melalui media massa, ada sebuah RS yang menolak pasien gara-gara tidak mampu membayar. Sangat ironis sekali. Dari studi kasus kecil tersebut dapat digaris bawahi seorang bidan di daerah terpencil mempunyai andil yang sangat besar dalam menolong dan membantu sesama. Sebuah ironisasi yang akan selalu menimbulkan keprihatinan. Padahal hak seluruh masyarakat Indonesia dimanapun berada mendapat pelayanan kesehatan yang layak.
Fungsi dan peran bidan di daerah terpencil bila dibandingkan dengan tenaga kesehatan lain di daerah perkotaan bisa dikatakan lima kali lebih berat. Selain menghadapi kendala yang besar dalam hal fasilitas, tranportasi, ketersediaan obat dan sarana penunjang lain. Para bidan tetap dengan ikhlas berjuang dan bertugas menjalankan profesinya. Disisi lain mereka harus pula memenuhi kebutuhan bagi dirinya. Sedangkan tuntutan terhadap pelayanan kesehatan ibu dan anak mutlak dan harus dipenuhi. Filosofi dasarnya adalah, apabila seorang ibu baik dan sehat, sehat pula sang anak. Anak merupakan aset bangsa yang harus dipelihara dan dididik. Sebuah fenomena lagi, sampai saat ini semua sektor pelayanan masih dijadikan komoditas, bukan sebagai aset yang harus dikembangkan. Ini menjadi suatu tantangan tersendiri bagi kita semua. Terutama masalah SDM, kapan kita menjadikan hal ini sebagai “aset”, bukan sekedar “komoditi”.
Peranan bidan yang tampak nyata adalah sebagai role model masyarakat, sebagai anggota masyarakat, konselor, motivator, dan inovator di daerah terpencil. Tentunya kompetensi seperti ini yang akan dikembangkan lebih lanjut melalui pendidikan dan pelatihan bagi para bidan. Peranan yang harus dilihat sebagai “main idea” untuk membentuk sebuah peradaban dan tatanan pelayanan kesehatan. Tuntutan profesional diseimbangkan dengan kesejahteraan bidan daerah terpencil. Pemerintah telah mencanangkan mengangkat mereka sebagai PNS. Suatu langkah aktif dalam menyongsong peningkatan pelayanan di daerah terpencil.
Program Bidan Desa
Salah satu program Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) adalah menurunkan kematian dan kejadian sakit di kalangan ibu, dan untuk mempercepat penurunan angka Kematian Ibu dan Anak adalah dengan meningkatkan mutu pelayanan dan menjaga kesinambungan pelayanan kesehatan ibu dan perinatal. Dalam usaha meningkatkan mutu pelayanan kebidanan dan kesehatan anak terutama di desa maka tenaga kesehatan (medis) seperti bidan harus menjalin kerjasama yang baik dengan tenaga non medis seperti dukun dengan mengajak dukun untuk melakukan pelatihan dengan harapan dapat:
- meningkatkan kemampuan dalam menolong persalinan
- dapat mengenal tanda-tanda bahaya dalam kehamilan dan persalinan
Selain bekerja sama dengan tenaga non medis seperti dukun,bidan desa juga bekerja sama dengan masyarakat yang secara sukarela membantu dan melaksanakan pos yandu. Biasanya masyarakat tersebut telah mendapat pelatihan dalam menjalankan tugasnya tersebut sebagai kader. Tugas dan fungsi bidan utama bidan desa adalah memberikan pelayanan kesehatan ibu dan anak, sebagaimana tertuang dalam SE Dirjen Binkesmas No. 492/Binkesmas/Dj/89 yang menyatakan penempatan bidan desa adalah memberikan pelayanan ibu dan anak serta KB dalam rangka menurunkan angka kematian ibu dan bayi serta kelahiran. Namun pada kenyataannya bidan desa dibebani dengan berbagai macam program pelayanan kesehatan lainnya. Pada kondisi ini bidan desa dihadapkan pada keterbatasan kemampuan dan kondisi masyarakat yang beragam karakteristik.
Kehadiran bidan di desa diharapkan mampu memperluas jangkauan pelayanan yang telah ada sekaligus dapat meningkatkan cakupan program pelayanan KIA melalui:
- peningkatan pemeriksaan kesehatan ibu hamil yang bermutu
- pertolongan persalinan
- deteksi dini faktor kehamilan dan peningkatan pelayanan neonatal.
- Promosi kesehatan dan pencegahan penyakit pada bayi
Serta bekerja sama dengan kader posyandu mencari sasaran ibu hamil
dengan melakukan :
- kunjungan rumah
- sosialisasi pentingnya pemeriksaan kesehatan antenatal
- memotivasi ibu hamil untuk memeriksakan kehamilan secara rutin minimal empat kali selama kehamilannya.
Bidan di desa telah melalui tingkat pendidikan kebidanan dan telah mampu dan cakap dalam melaksanakan tugasnya sebagai bidan. Rasa malu pada pemeriksaan kehamilan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi cakupan pelayanan antenatal.Masyarakat malu untuk memeriksakan dirinya terutama pada kehamilan pertama. Pemberian bantuan tambahan gizi bagi ibu hamil merupakan daya tarik tersendiri dalam kunjungan pelayanan antenatal dan dapat meningkatkan kunjungan ibu.
Prinsip Pelayanan Kebidanan di Desa
- Pelayanan di komunitas desa sifatnya multi disiplin meliputi ilmu kesehatan masyarakat, kedokteran, sosial, psikologi, komunikasi, ilmu kebidanan, dan lain-lain yang mendukung peran bidan di komunitas
- Dalam memberikan pelayanan di desa bidan tetap berpedoman pada standar dan etika profesi yang menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia
- Dalam memberikan pelayanan bidan senantiasa memperhatikan dan memberi penghargaan terhadap nilai-nilai yang berlaku di masyarakat, sepanjang tidak merugikan dan tidak bertentangan dengan prinsip kesehatan.
Bidan di desa juga membuat laporan kegiatan bidan setiap bulan dan diserahkan kepada bidan koordinasi pada saat bidan di desa melaksanakan tugasnya ke puskesmas
Program Desa Siaga
Saat ini pemerintah sedang menyiapkan segala perangkat yang akan mendukung program Desa Siaga. Baik sarana prasarana maupun SDM-nya. Salah satunya tenaga bidan akan menjadi penopang pelayanan di lini terdepan ini. Gaung ini akan disambut dengan antusias, yang berarti pelayanan kesehatan di pelosok desa akan lebih meningkat.
Bidan yang telah lama bertugas di daerah terpencil dapat dijadikan contoh bagi unsur Desa Siaga dalam membaur dengan masyarakat. Sudah tentu seorang bidan adalah seorang wanita yang mempunyai sifat serta karakter yang khas. Ini dapat dijadikan aset guna memerankan peranan yang lebih luas lagi, khususnya bagi tenaga kesehatan lain yang akan bergabung dalam kebersamaan Desa Siaga. Menggagas konsep tidaklah semudah melaksanakan. Sebagai seorang pelaksana pelayanan kesehatan di lini depan, bidan harus bisa tampil memberikan contoh kebersamaan dan keberterimaan dalam program pemerintah ini.
Pengalaman dan tempaan serta ujian hidup di dalam menjalankan tugas di daerah terpencil akan menjadi inspirator bagi rekan tenaga kesehatan lain untuk tidak canggung dan ragu lagi dalam mengabdi dan berkarya di daerah terpencil. Opini ini harus tetap dikedepankan, agar tatanan dan peradaban pelayanan kesehatan di daerah terpencil sesuai dengan kondisi sosial budayanya tetap terjaga.
Analisis kecenderungan fenomena program Desa Siaga ini dapat dijadikan pembelajaran untuk para bidan tampil sebagai pemimpin dalam membaur dengan masyarakat. Menyoal tentang program Desa Siaga, baik langsung maupun tidak langsung, bidan telah melaksanakan tahapan pengembangan program tersebut. Sehingga peningkatan dan kemajuan pelayanan di kemudian hari sesuai dengan program pemerintah dapat lebih maju. Tugas pokok bidan akan lebih terfokus, karena telah ada tim yang dengan spesifikasinya masing-masing akan bersama-sama melayani masyarakat.
Langkah Pengembangan Jejaring Desa Siaga
Mengingat permasalahan yang mungkin dihadapi Desa Siap Antar Jaga maka perlu dikembangkan jejaring kerjasama dengan berbagai pihak. Wujud pengembangan jejaringnya dapat dilakukan melalui pertemuan pengurus Desa Siap Antar Jaga secara internal, pertemuan antar pengurus Desa Siap Antar Jaga, pertemuan pengurus dengan pengelola upaya kesehatan yang ada di desa tersebut minimal 3 bulan sekali. Pengembangan Desa Siap Antar Jaga dimaksudkan secara halus untuk terciptanya keadaan masyarakat yang terpenuhi kewajiban dan hak-haknya.
Pengembangan Desa Siap Antar Jaga dibangun dengan 3 sistem, yaitu:
- Sistem Pengelolaan Kesehatan di Masyarakat
Misal: Penggalangan dana melalui posyandu, atau kelompok lembaga masyarakat yang lain.
- Sistem Pendidikan Kesehatan di Masyarakat
Misal: Penyuluhan melalui pertemuan-pertemuan yang dilaksanakan di masyarakat.
- Sistem Pendukung Kesehatan di Masyarakat
Misal: Dukungan kepada ibu hamil untuk memperoleh hak-haknya dalam memperoleh pelayanan kesehatan termasuk dalam pengambilan keputusan oleh ibu sendiri. Dukungan dalam memperoleh kemudahan transportasi. Dukungan dalam memperoleh donor darah sewaktu-waktu diperlukan.
Pengembangan 3 sistem dapat dimulai dengan usaha fasilitator desa masuk dalam kegiatan didesa. Misalnya Posyandu balita, lansia, pengobatan tradisonal, pesantren, usaha kesehatan masjid, dan lain-lain.
|