"Dukkk"
Diah merebahkan kepalanya ke tumpukan buku di hadapannya. Ia melirik jam tua yang besar di dinding perpustakaan kampusnya. Pukul 8 malam, pantas ruang belajar di perpus utama itu sudah agak sepi.
" Tapi nanggung ah, nunggu Isya." pikirnya. Mulai masuk musim panas, Isya baru datang jam setengah sembilan malam. Diah biasanya sholat di ruang bawah tanah perpus kampusnya, di bawah tangga darurat. Tempatnya bersih dan jarang ada mahasiswa yang lewat, tempat yang tepat selain gudang buku bekas belakang kantin yang ia dan senpainya "temukan" dua tahun lalu.
Sebenarnya mata Diah terasa berat dan kepalanya agak pening, makanya ia ingin istirahat sebentar. Tumpukan buku referensi di hadapannya belum semuanya ia baca padahal minggu depan dua repoto sudah harus dikumpulkan ke sensei. Satu tentang Ekonomi Jepang pasca Perang Dunia ke-2 dan satunya tentang filosofi Ekonomi Jepang. Barusan, 3 jam sudah ia habiskan untuk membaca salah satu buku referensi yang akan ia gunakan untuk bahan menulis repoto. Tapi, jangankan ide untuk menulis, Diah tak yakin ia mengerti sepenuhnya isi buku yang barusan ia baca. Banyak istilah ekonomi yang baru pertama kali ia baca, belum lagi kanji-kanji Jepang yang njelimet bertebaran memenuhi halaman buku-buku di depan matanya itu. 3 jam penuh ia membaca kalimat demi kalimat, tapi sekarang ia merasa sama sekali tak memahami apa yang tertulis di buku-buku itu.
"Iiiiihh...sebel!!! kenapa sih Jepang harus pake kanji? Kenapa gak pake alfabet aja seperti bahasa Inggris?!" keluhnya pada dirinya sendiri. Ia kembali menatap buku-buku di depannya dan 2 repotonya yang harus segera ia selesaikan. Dan tiba-tiba saja mata Diah yang lelah menjadi panas. Bulir bulir air mata pun mulai menetes perlahan. Diah benar benar lelah dan kali ini "rasa putus asa" itu lagi-lagi mampir mendatangi kepenatannya belajar di negeri sakura.
*******
Diah adalah mahasiswi tingkat 3 fakultas ekonomi Universitas Tokyo. Datang ke Jepang beberapa tahun lalu sebagai mahasiswi penerima beasiswa Monbusho untuk program S1. Sebelum datang ke Jepang, Diah hanyalah seorang anak desa yang sejak kecil mempunyai mimpi belajar di luar negeri. Sebuah mimpi yang selalu jadi bahan gurauan temannya ketika mereka bermain bersama di sawah sambil menunggu kambing-kambingnya makan rumput pinggir sawah. Sebuah mimpi yang sering dijawab dengan arif oleh Ibunya tercinta.
"Ojo ngimpi sing muluk muluk nduk, sekolah ning Suroboyo wae wis apik to" sering ibunya berkata begitu sambil mengusap kepalanya setiap kali ia mengutarakan tekatnya untuk bersekolah di luar negeri. Biasanya ia hanya akan mengangguk dan tersenyum pada ibunya, tapi dalam hatinya mimpi untuk belajar ke luar negeri tak pernah terbang jauh. Apalagi ayahnya selalu bilang "Gusti Allah iku Maha Kaya nduk, minta apa saja InsyaAllah diberi. Yang penting usaha dan doa yang tak henti henti" kata beliau. Ditambah jaminan beliau untuk menjual si Momon, kambing mereka dan anak-anaknya untuk keperluan sekolah Diah dan adiknya, Diah tak pernah berusaha mengubur impian itu dalam dalam.
Sejak SD sampe SMP Diah masih bisa membuat leluhur si Momon bertahan di rumah, tak dijual, karena ia selalu dapat beasiswa untuk SPP plus uang hadiah lomba matematika dan Bahasa Inggris yang sering diikutinya. Beranjak SMA Diah bisa masuk SMA Tarumanegara, SMA pemerintah yang menggratiskan biaya pendidikan meski persaingan untuk masuk SMA itu sangat ketat dan Diah harus tinggal di asrama terpisah dari Bapak, Ibu dan dik Sari. saat itu, Ibu si Momon masih bertahan karena SMA Diah sama sekali tak memungut biaya baik untuk pendaftaran maupun "uang gedung", hanya saja bapak si Momon terpaksa harus dijual untuk biaya mengurus dokumen ini itu sebagai persyaratan masuk SMA Tarumanegara. Lulus SMA, Diah tak menyia-nyiakan kesempatan untuk mengambil tes berbagai beasiswa kuliah ke luar negeri, termasuk Monbusho, beasiswa untuk kuliah di Jepang. Beberapa ratus orang mendaftar, tapi Allah memudahkannya untuk menapaki jalan ke negeri sakura. Diah berhasil mendapatkan beasiswa Monbusho program S1 dan mimpinya untuk belajar ke Jepang pun sudah di hadapan mata.
Dan saat itulah Diah harus berpisah dengan si Momon dan anak-anaknya. Biaya ke Jakarta, mengurus paspor, visa dan dokumen lain yang cukup banyak membuatnya merelakan si Momon yang dirawatnya sejak kecil. Ia sempat meneteskan air mata melihat si Momon dan anak anaknya dituntun pemilik barunya, Pak Bari, tetangga sebelah kampung. Sebulan setelah perpisahannya dengan si Momon, ia pun harus berpisah dengan Bapak, Ibu dan saudara serta temannya yang lain. Diah berangkat ke negeri sakura di bulan April empat tahun lalu. Yah, tak terasa sudah 4 tahun ia berada di negeri impiannya ini. 4 tahun...waktu yang cukup lama.
*******
Hape Diah bergetar membuyarkan lamunannya. Rupanya alarm untuk adzan Isya. Ia pun bergegas mengambil wudlu di toilet. Tak ada siapa siapa di toilet, Diah pun tersenyum simpul. Takkan ada yang memandangnya aneh ketika ia membasuhkan air ke kakinya seperti yang selama ini ia alami ketika ia berwudlu di depan orang Jepang. Mungkin mereka tak mengerti mengapa selain tangan Diah juga membasuh telinga dan kakinya. Apa hubungannya dengan buang air, kan kalau buang air......tahu sendiri khan.
Alhamdulillah..wudlu sedikit menyegarkan kepala dan pikirannya tapi matanya masih merah. Aah rupanya lama juga aku menangis barusan, pikirnya. Segera ia menuju ruang bawah tanah, sambil berharap tak ada yang memergokinya berjalan ke bawah tangga. Ntar dikira aneh lagi.
Malam itu, seperti biasanya, di bawah tangga perpustakaan lantai bawah tanah Diah curhat kepada Yang Maha Penyayang. Ia khusyu` di setiap sujudnya, seolah ingin berlama-lama mengadu kepada-Nya. Diah tenggelam dalam dzikir kepada Penciptanya, minta maaf atas segala dosa, berterima kasih atas segala nikmat dan cinta-Nya serta tak lupa ia panjatkan doa untuk orang tuanya di seberang sana. Tak ketinggalan, ia menceritakan rasa putus asanya dan minta diberikan kemudahan menuntut ilmu dan doa lain yang tak terhitung banyaknya. "Gusti Allah iku sugih, nduk" kembali ia teringat perkataan ayahnya.
*******
Ia baru saja menyelesaikan curhatnya dan mulai melipat sajadahnya ketika suara seorang mengagetkannya,
"Nani yatteru no?" tanya orang itu. Diah kaget dan ia pun membalikkan badannya ke arah datangnya suara, tapi ia tak bisa melihat wajah sang laki-laki penanyanya itu. Ia pun meraih kacamatanya sembari mengucap basmalah. Ia siap untuk menjelaskan kepada siapapun yang akan bertanya. Tapi kemudian dia hanya tersenyum begitu ia bisa melihat dengan jelas wajah lelaki tua itu.
"Aaah...Nomura san, bikkuri s**ta yo!!" jawabnya.
"Barusan, lagi saraato?" tanya Nomura san, kata laki laki tua itu.
"Hai, sholat!" jawab Diah ramah sambil melanjutkan membereskan sajadahnya.
"Maguribu?" tanya Nomura san lagi.
"Iie, Isya desu" jawab Diah, lagi-lagi tersenyum mendengar pertanyaan "teman ngobrol"nya itu.
Sejurus kemudian, Diah dan pak Nomura, penjaga perpus berusia 58 tahun yang sudah dikenalnya sejak ia menjadi mahasiswi baru universitas Tokyo, ngobrol di dekat tangga. Sudah agak lama Diah tak berbincang2 dengan beliau.
********
Nomura san adalah penjaga perpustakaan utama universitas Tokyo, dikenal "sadis" kepada mahasiswa yang tertangkap sedang makan di perpus, yang menerima telepon di ruang baca atau melanggar berbagai peraturan perpus lainnya. Tapi ia akrab dengan Diah. Lho kok bisa? Iya, karena Nomura san inilah orang Jepang yang pertama (atau mungkin satu-satunya) yang memergoki Diah sholat di lantai bawah tanah perpus utama 3 tahun silam. Tapi bukan masalah "kepergok" itu yang membuat mereka menjadi akrab, tapi jawaban Diah saat ditanya Nomura san saat itu yang menjadi awal pertemanan mereka.
Jadi ceritanya saat itu, 3 tahun yang lalu di suatu malam Nomura san yang sedang berpatroli di perpus memergokinya Diah yang sholat Maghrib di bawah tangga menuju ruang bawah tanah. Setelah berkali kali mengucek mata, mungkin untuk memastikan kalo Diah bukan hantu, Nomura san menghardik Diah yang saat itu duduk bersimpuh di bawah tanah dan masih memakai mukena putihnya. Diah, yang masih mahasiswi baru dan baru saja lulus sekolah bahasa Jepang dengan otomatis mengeluarkan kalimat andalannya manakala ia kena masalah di Jepang, yakni "Sumimasen, Nihonggo wa tabemasen", yang kira-kira artinya "Maaf, saya tidak makan Bahasa Jepang". Mendengar jawaban Diah itu, kontan Nomura san tertawa terbahak-bahak. Setelah tertawa, beliau menjelaskan beberapa tahun sebelumnya lalu ia mendengarkan jawaban yang sama dari seorang mahasiswa asing lainnya yang ketahuan sholat di bawah tangga. Diah pun meringis, menyadari kalau ia tak bisa membohongi pak penjaga dan sadar kalau senjata andalannya itu sudah tak mempan lagi, bagaimana mungkin seseorang yang bisa menembus universitas nomor satu se-Jepang tak bisa membedakan "wakarimasen" (artinya, tak mengerti) dengan "tabemasen". Dan itulah awal mula Diah berkenalan dengan Nomura san.
Setelah mendengar penjelasan Diah yang sekaligus minta izin untuk diperbolehkan sholat di bawah tangga di lain waktu, Nomura san yang tak beragama seperti kebanyakan orang Jepang hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia heran mengapa Diah setiap hari harus repot-repot datang ke lantai bawah tanah perpus utama "hanya" untuk berdoa kepada Kamisama, yang menurut Nomura san tak bisa dirasakan keberadaannya. Kemudian, Nomura san juga bertanya mengapa Diah tahan menutup kepala dan berbaju panjang di gerahnya musim panas "hanya" untuk menjalankan apa yang diperintahkan Kamisama.
Mulanya Diah hanya tersenyum , kemudian dengan bahasa Jepang yang tak sempurna, ia berusaha menjelaskan sesederhana mungkin. Diah, yang merasa pengetahuan tentang Islamnya masih terbatas, tak menjelaskan yang muluk-muluk. Ia hanya menceritakan apa yang selama ini rasakan sebagai seorang muslim. Betapa tenangnya ia dikala menghadapi musibah, karena tahu pasti ada hikmah yang telah diatur oleh Allah, Sang Kamisama. Betapa sholatnya entah itu di bawah tangga perpus maupun di rumah, telah membuatnya merasa aman dan tentram karena ia terhubung dengan Sang Kamisama yang selalu menyayanginya dan menjaganya.
Tak disangka, Nomura san tertarik mendengar cerita-cerita Diah tentang kehidupannya sebagai muslim di Jepang. Nomura san antusias menyimak petualangan Diah sholat di tempat-tempat rahasia, seperti toilet orang cacat di Jepang (yang luas dan bersih karena jarang sekali dipakai ^^) maupun di tangga darurat mall-mall Tokyo. Terlebih ketika Diah bercerita tentang makanan-makanan halal dan haram, Nomura san manggut-manggut terkesan akan keteguhan seorang Muslim mematuhi perintah Kamisama dalam hal se-sepele makanan. Pendek kata Nomura san terkesan dengan Diah, si mahasiswa asing yang "tak makan bahasa Jepang" itu.
Dan sejak itulah Diah jadi berkawan akrab dengan pak penjaga perpus yang ditakuti mahasiswa Universitas Tokyo itu. Paling tidak seminggu sekali, di hari Jumat, jadwal dimana Nomura san bertugas patroli penuh di perpustakaan, beliau selalu menyempatkan diri ke ruang bawah tanah untuk sengaja bertemu Diah dan mengajaknya ngobrol, kebanyakan bertanya ini itu tentang Islam. Dari hal simpel seperti "orang Islam tak bisa makan babi dan minum sake tapi bisa beristri empat", sebuah imej orang Islam di mata kebanyakan orang Jepang, sampai yang agak berat semisal "jihad dan terorisme". Hal ini membuat Diah merasa tertantang untuk belajar banyak tentang Islam. Jika ia merasa jawabannya kurang memuaskan, maka ia akan bertanya ke senpainya yang lebih tahu, dan menjelaskan lebih lanjut kepada Nomura san di pertemuan selanjutnya. Ia berusaha sebisa mungkin untuk menjawab rasa keingintahuan beliau yang besar akan Islam.
*******
"Ooo..jadi lagi sebal sama bahasa Jepang ya? Ganbare yo! Katanya mau jadi ahli ekonomi?" hibur Nomura san sambil tersenyum ringan.
"Iya Nomura san, tapi kadang saya putus asa, kok rasanya meski telah tiga tahun di sini, bahasa Jepang saya masih tak cukup" kata Diah, menundukkan kepalanya.
"Maa, sukunakutomo ima wa mou NIHONGGO WA TABEMASEN tte iwanai yo ne, hehehehe..." Nomura san tertawa menggodanya.
"Degg"
Mendengar perkataan Nomura san barusan, tak tahu mengapa tiba tiba jantung Diah berdesir.
"Kalau dibandingkan Diah dua tahun lalu, Diah yang sekarang sugoi yo!! Coba ingat lagi, dulu Diah bahkan tak bisa menjelaskan saraato dalam bahasa Jepang, sekarang sudah bisa ngobrol macem2 sama saya. Ganbare yo..jangan menyerah!" lanjut Nomura san sambil
"Degg"
Lagi lagi jantung Diah berdesir kencang. Ia jadi tersadar akan sesuatu.
******
Selama ini, betapa seringnya ia hampir menyerah pada si Putus Asa yang rajin menghampirinya. Dulu, ketika masih sekolah bahasa Jepang, ia seringkali mengeluh "hanya" gara-gara ia tak bisa membuat karangan yang bagus dalam bahasa Jepang. Di lain hari, ia menangis karena tak mampu menghafal kanji-kanji Jepang yang bejibun itu. Ketika sudah masuk universitas pun begitu. Pas tingkat satu, ia seringkali merasa putus asa ketika tak bisa menangkap penjelasan sensei, meski ia sudah mendengarkan dengan sepenuh hati. Pun, ketika repoto-repotonya mulai menggunung, selalu terbersit rasa putus asa dan pikiran penuh dengan andai semacam, "andai saja aku kuliah di Indonesia" ataupun "andai saja kuliahku tak dalam bahasa Jepang". Diah terlalu sering berpikir untuk menyerah, dan disaat yang sama Diah sering protes kepada Allah SWT, Kamisama yang sangat dicintainya. Diah memandang Nomura san yang ada di hadapannya. Betapa Allah yang Maha Tahu telah mengatur segalanya. Pertemuannya dengan Nomura san di lantai bawah tanah beberapa tahun lalu, membawa begitu banyak perubahan dalam diri Diah dan bapak tua tak bertuhan itu.
Andai saja dulu Diah menyerah belajar bahasa Jepang dan pulang ke tanah air, Diah takkan masuk ke Universitas Tokyo. Itu berarti Diah takkan bertemu dengan Nomura san dan menyampaikan keindahan-keindahan Islam kepada bapak tua yang disayanginya itu. Jika ia tak bisa berbahasa Jepang, mana mungkin ia bisa menjawab semua keingintahuan Nomura san akan Islam, dan membantu beliau untuk ikut memahami dan merasakan keberadaan Allah, satu-satunya Kamisama yang benar-benar ada. Andai Diah tak bertemu Nomura san, ia takkan segiat saat ini untuk mencari tahu lebih banyak tentang Islam. Dan andai saja Allah tak membuatnya ke Jepang, mungkin Nomura san tak pernah tahu bahwa Islam lebih dari sekedar "tak bisa makan babi dan minum sake". Diah jadi meyakini kembali, begitu banyak hikmah dibalik kedatangannya ke Jepang yang selama ini terlupakan ketika ia sedang dihampiri rasa putus asa. Allah lah yang Mahu Tahu, Ia yang Maha Mengatur, sekali lagi Diah meyakinkan dirinya. Makanya tak seharusnya ia protes ini itu, malah sebaliknya ia harus bersyukur kepada-Nya
Kemudian Diah juga teringat keluarganya di tanah air. Sholat malam Ibu yang mendoakan kemudahannya belajar di negeri sakura. Kata kata penyemangat Bapak dikala ia putus asa, dan celotehan dik Sari yang ingin "pintel ceperti mbak Diya". Belum lagi teman-temannya di tanah air, yang selalu menyemangatinya dan mengatakan betapa beruntungnya ia bisa kuliah gratis di luar negeri. Diah tersadar lagi, selama ini begitu banyak orang yang mendoakannya yang berharap banyak kepadanya agar kelak, setelah ia kembali ke tanah air ilmu yang diperolehnya di jepang bisa bermanfaat. Ia tak seharusnya putus asa, ia tak boleh menyia-nyiakan semua dukungan dan doa Ibu, Bapak dan teman temannya. Ia harus semangat dalam menuntut ilmu. Apalagi dalam Islam menuntut ilmu adalah ibadah, ketika ia diniatkan untuk mencari ridlo Allah semata. Ia tak boleh gampang menyerah, karena ia punya Allah yang selalu menyayanginya. Bahkan kali ini pun, Allah menunjukkan kasih sayang-Nya, Ia menjawab keputus asaan Diah lewat seorang Nomura san.
*******
"Diah chan, hari Sabtu depan, saya ikut ke masjid lagi yah. Mau mulai belajar i...i...apa ya?! Yang buku kecil hitam untuk belajar baca Quran, Isuro..??"
"Iqro, Nomura san!!" jawab Diah sambil tersenyum simpul.
"Hehehe...iya! Maklum sudah tua, pikun." beliau ikut tersenyum. "Minggu lalu,Ahumadu kun janji mau mengajari saya baca Quran setiap sabtu" tambah beliau.
"Alhamdulillah, yokatta desu ne!" jawab Diah.
"Ya sudah, saya mau patroli dulu. Sudah jam 9. Diah juga pulang dulu, istirahat, tak baik belajar terus!" kata Nomura san bangkit dari duduknya. "Ganbatte kudasai ne, Diah chan!" imbuh beliau sambil berlalu dan melambaikan tangannya.
"Un, ganbarimasu! Arigatou Nomura san!" jawab Diah riang memandang punggung bapak tua yang berlalu.
Sepeninggal Nomura san, dalam hati Diah, mucul kembali semangat untuk berjuang. Ia meluruskan kembali niatnya untuk menuntut ilmu di Jepang, dan ia kuatkan tekadnya untuk mengusir si putus asa yang rajin menghampirinya. Tak lupa, Diah memanjatkan doa pelan agar hidayah Allah segera datang kepada Nomura san.
”Allahu Akbar, Ganbarimasu” ucap Diah perlahan.
Tokyo, 19 Juli 2007
To me: Ganbarou ^__^V
Terjemahan kata-kata dalam bahasa Jepang:
"NIHONGGO WA TABEMASEN" ="SAYA TIDAK MAKAN BAHASA JEPANG"
repoto = laporan
sensei = guru, dosen
"Aaah...Nomura san, bikkuri s**ta yo!!" = Aaah..Pak Nomura bikin saya kaget aja
...san = Pak..., Saudara....
saraato = sholat
Iie, Isya desu = bukan(maghrib), tapi isya`
Kamisama = Tuhan
sake = arak tradisional jepang, umumnya terbuat dari beras
Ganbare yo! = semangat, lakukan yang terbaik
"Maa, sukunakutomo ima wa mou NIHONGGO WA TABEMASEN tte iwanai yo ne, hehehehe..." = yaa...paling nggak, tak boleh lagi bilang "SAYA TIDAK MAKAN BAHASA JEPANG" ya,...hehhehe ...
...kun = adik....
yokatta desu ne!" = saya ikut senang, bagus lah, untung ya
"Un, ganbarimasu! Arigatou Nomura san!" =iya, saya akan lakukan yang terbaik, terimakasih pak Nomura
Sumbernya lupa diambil dr mana T_T, tapi artikel ini ditulis oleh Setyowati Hermanto, sebagai penyemangat ari dalam belajar ^_^
|